MAKALAH
”Mari berkebun sahang”
KELOMPOK ”BESAK BACOT"
tugas Komunikasi Sosial dan Pembangunan.
”Mari berkebun sahang”
KELOMPOK ”BESAK BACOT"
tugas Komunikasi Sosial dan Pembangunan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT karena atas limpahan rahmat , hidayah, dan petunjuk yang diberikan-Nya jualah akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Program Mari Berkebun Sahang” dalam memenuhi tugas Komunikasi Sosial dan Pembangunan.
Makalah ini pada dasarnya berisi mengenai perubahan lahan akibat pertambangan sehingga lahan berkebun lada/sahang pun berkurang dan program ”Mari berkebun sahang ”yang diharapkan menjadi solusi pasca pertambangan timah dan mengembalikan masa jaya Lada di Bangka Belitung .Dengan selesainya makalah ini mudah-mudahan dapat membantu masyarakat agar lebih mengetahui dan dapat menambah wawasan mengenai hal tersebut.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan kemampuan, pengalaman dan ilmu yang dimiliki ataupun kurangnya sumber pustaka. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat diharapkan guna penyempurnaan dengan pengembangan makalah ke arah yang lebih baik. Semoga segala yang tertuang dalam makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, baik sekarang maupun dimasa yang akan datang.
Akhir kata, penulis memohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Mudah-mudahan usaha penyusunan makalah ini memperoleh Ridha dari Allah SWT, Amin.
Sungailiat, 28 April 2013
Penulis
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Propinsi Bangka Belitung adalah sebuah kawasan yang tengah bebenah diri. Kecantikan pantainya mulai dikenal, begitu juga keelokan panoramanya. Dan sejak lama Bangka Belitung terkenal sebagai penghasil lada putih atau White Muntok Pepper kelas dunia.Namun kini, kejayaan lada seolah tinggal menghitung hari. Harga jual si lada putih atau sahang dalam bahasa setempat, amat rendah. Dan masyarakat lebih memilih menjadi penambang timah inkonvensional, atau lebih dikenal dengan TI. Hal ini pula yang mengubah cantiknya wajah Bangka .Sebagian bahkan membongkar kebun lada mereka, diubah jadi lokasi tambang. Padahal mineral itu hanya tinggal sisa-sisanya. Bekas galiannya pun berpotensi menimbulkan masalah lingkungan.
Berlalunya masa jaya sahang alias lada di Bangka Belitung, gampang dilihat. Bagaimana tidak, tahun 2000 masih ada 80 ribu hektar kebun lada. Kini susut hanya tinggal 7 ribu hektar. Banyak pohon lada yang rusak serta bercampur dengan alang-alang. Sebagian bahkan diubah jadi lokasi tambang inkonvensional.
Lahan pasca tambang timah didominasi oleh hamparan tailing, overburden, dan kolong. Tailing timah mempunyai karakterisitik fisika dan kimia tanah serta kondisi iklim mikro yang jelek. Untuk memanfaatkan kembali lahan pasca tambang timah, terutama lahan tailing perlu dilakukan reklamasi dan rehabilitasi.
Pertambangan adalah kegiatan dengan penggunaan lahan yang bersifat sementara, oleh karena itu lahan pasca tambang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan produktif lain. Untuk memanfaatkan lahan pasca tambang maka harus ada upaya untuk memulihkan kembali lahan yang telah rusak akibat dari kegiatan penambangan. Upaya perbaikan lahan bekas tambang dilakukan melalui program reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang.
Namun lagi-lagi reklamasi dan revegetasi lahan bekas tambang membutuhkan dana dan waktu yang tidak sedikit,maka dari alasan itulah sebuah Dinas Perkebunan Kabupaten Bangka membentuk sebuah Program bernama “Mari Berkebun Sahang” .Program ini berisi usaha –usaha untuk mengembalikan masa-masa kejayaan tanaman lada di Bangka Belitung.
B.Tujuan
Program Mari berkebun Sahang ini mempunyai tujuan untuk mengembalikan masa-masa kejayaan perkebunan Lada di Bangka Belitung dengan berbagai usaha membudidayakan kembali tanaman Lada.
C.Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang yang ada maka rumusan masalahnya adalah :
1. Apa isi Program Mari Berkebun Sahang
2. Apa saja yang dilakukan Dinas Perkebunan Kabupaten Bangka agar Program tersebut tepat sasaran dan efektif?
BAB II
PEMBAHASAN
Program Mari Berkebun Sahang yang diluncurkan Dinas Perkebunan Kabupaten Bangka berisi:
1. Mengajak masyarakat membudidayakan kembali perkebunan lada dengan cara memberikan 20 bibit lada gratis pada setiap kepala keluarga untuk ditanam di lahan masing-masing.
2. Memberikan penyuluhan berkala bagaimana teknik berkebun lada yang baik dan benar sehingga menghasilkan lada yang unggul.
3. Melakukan pengontrolan selama masa perkebunan rakyat dilaksanakan sampai memberikan hasil maksimal
Sebagai Praktisi komunikasi yang terjun langsung di masyarakat dalam mensukseskan program “Mari Berkebun Sahang “ ini maka teknik yang di pakai adalah Proses Public Relations Cutlip & Center.
Menurut Cutlip & Center (dalam Kasali dan Abdurachman), proses PR Sepenuhnya mengacu kepada pendekatan manajerial. Proses ini terdiri dari: fact finding, planning, communication, dan evaluation (Abdurachman, 2001:31). Proses Public Relations yang dirumuskan oleh Cutlip dan Center mencakup (a) pendefinisian permasalahan,(b) perencanaan dan program,(c) aksi dan komunikasi,dan (d) evaluasi program (Yosal Iriantara,2004:55).
1. Fact finding adalah mencari dan mengumpulkan fakta atau data sebelum melakukan tindakan.
2. Planning adalah berdasarkan fakta membuat rencana tentang apa yang harus dilakukan dalam menghadapi berbagai masalah itu.
3. Communicating adalah rencana yang disusun dengan baik sebagai hasil pemikiran yang matang berdasarkan fakta atau data tadi,
4. Evaluation adalah mengadakan evaluasi tentang suatu kegiatan, apakah tujuan sudah tercapai atau belum.
Tahap 1 : Fact Finding yaitu mengumpulkan fakta melalui riset di lapangan misalnya observasi secara langsung ataupun kuisioner untuk melihat apa yang melatar belakangi masyarakat enggan berkebun lada.Dan didapat kesimpulan seperti di latar belakang masalah bahwa:
· lahan untuk berkebun lada sudah semakin berkurang akibat aktivitas penambangan dan biaya untuk reklamasi lahan kembali sangat tinggi ditambah waktu yang cukup lama.
· Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang teknik berkebun lada yang baik dan benar untuk meghasilkan lada yang berkualitas tinggi.
· Kurangnya teknologi dalam pembudidayaan lada.
Tahap 2 : Planning yaitu perencanaan semua kegiatan yang akan dilakukan dalam program mari berkebun sahang melihat dari fact finding maka perencanaan yang dilakukan adalah:
· Menyiapkan bibit-bibit lada untuk dibagikan secara cuma-Cuma sebanyak 20 bibit per kepala keluarga dengan pertimbangan lahan warga yang terbatas sehingga masa percobaan diberikan hanya 20 bibit saja.
· Mempersiapkan bahan sosialisasi teknik pembudidayaan lada yang baik melalui penyuluhan berkala kepada masyarakat yang telah diberikan bibit lada gratis.
· Mempersiapkan pengenalan teknologi-teknologi baru dalam menunjang keberhasilan perkebunan lada
Tahap 3 : Communicating yaitu mempersiapkan teknik yang matang untuk sosialisasi seluaruh rencana program.Dalam hal ini teknik komunikasi yang dipilih sangat penting dalam menentukan keberhaslan program.Adapun teknik komunikasi yang dilakukan adalah:
· Sosialisasi melalui penyuluhan dengan memilih Public Speaker yang berkompeten dalam bidang perkebunan lada dan orang tersebut punya kredibelitas tinggi.
· Sosialisasi melalui spanduk ataupun banner yang diletakkan di tempat-tempat strategis agar masyarakat tau,memahami dan akhirnya mau melaksanakan program tersebut.Isi pesan dalam spanduk maupun banner harus diperhatikan dan di desain semenarik mungkin hingga membuat masyarakat tertarik untuk memperhatikan spanduk atau banner tersebut.
· Penggunaan iklan di media cetak dan elektronik bisa dalam bentuk iklan radio ataupun iklan di Koran dengan isi pesan yang juga mudah diserap oleh masyarakat sasaran.
· Publisitas juga dilakukan sehingga saat penyuluhan berlangsung pers diajak untuk meliput acara tersebut hingga mudah diketahui oleh masyarakat lainnya saat beritanya muncul di media cetak maupun elektronik termasuk melalui internet (web,blog,dsb)
· Hal terpenting adalah menjaga hubungan baik dengan stakeholder agar pemerintah,lembaga swasta,masyarakat ikut mendukung program Mari Berkebun Sahang
Tahap 4 : Evaluation yaitu tahap evaluasi seluruh kegiatan yang dilakukan dalam program mari berkebun sahang.Melihat dari kegiatan yang dilakukan maka evaluasi bisa dilakukan dengan penerapan beberapa teknik evaluasi diantaranya adalah The Pyramid of PR Research ,yang merupakan versi revisi dari Model Makro Evaluasi PR, dimulai dari proses perencanaan strategis,sampai pada pencapaian outcomes (sikap dan perilaku).Metafora piramida berguna untuk menjelaskan bahwa pada tahap awal –ketika perencanaan komunikasi dimulai-praktisi memiliki banyak sekali informasi untuk dirakit serta serangkaian pilihan dari segi media dan aktivitas.Pemilihan dibuat untuk mengarahkan pesan-pesan tertentu pada target audiens tertentu melalui media tertentu dan,pada akhirnya mencapai sasaran yang didefinisikan secara spesifik ( puncak dari program atau proyek).
Dalam model ini ,inputs adalah komponen-komponen fisik dan strategis dari program-program atau proyek-proyek komunikasi serta pilihan media (misalnya event,punblikasi,web, dan sebagainya),content (misalnya teks dan image),dan format.Outputs adalah materi-materi fisik dan kegiatan-kegiatan yang diproduksi ( misalnya pulisitas media,event,publikasi,intranet,dsb),serta proses untuk menghasilkan (tulisan,rancangan,dsb).Outcomes adalah dampak-dampak komunikasi ,baik terhadap sikap maupun perilaku.
Jadi Inputsnya :
· pemilihan program misalnya penyuluhan,iklan media cetak dan elektronik,publikasi,internet dsb
· content pesan baik pada saat penyuluhan,di spanduk,banner ataupun iklan media cetak/elektronik kita contohkan isi pesan nya ( 20 bibit sahang untuk 20 kebaikan ) adapun kebaikan berisikan tentang hal-hal positif yang bisa diraih untuk pembangunan.
Outputsnya :
· sudah dalam bentuk jadi diantaranya spanduk,banner,iklannya dan termasuk kegiatan penyuluhan beserta dokumentasinya
Outcomesnya :
· Riset kembali melalui kuisioer ataupun wawancara langsung tentang damapk dari program yang dilakukan apakah ada perubahan pada level koqnitif,afektif maupun konatif masyarak tentang pesan yang disampaikan melalui program tersebut.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
1. Kurangnya minat masyarakat untuk berkebun lada karena lahan sudah berkurang akibat aktivitas penambangan dan minimnya pengetahuan masyarakat tentang teknik berkebun lada yang baik dan benar untuk meghasilkan lada yang berkualitas tinggi.
2. Untuk mensukseskan Program “Mari Berkebun Sahang “ Dinas Perkebunan Kabupaten Bangka membutuhkan strategi yang baik mulai dari Fact Finding,Planning,Communicating dan Evaluations.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar